LOL ♥
by H3203 on Tue Mar 13, 2012 5:42 pm
KISAH MENGHARUKAN AYAH DAN PUTRINYA :”AKU MAU BAYAR WAKTU PAPA SETENGAH JAM”
Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya. Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau Tanya berapa sih gaji Papa ?”
“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang
Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?” Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya.”Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya. “Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew.
Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?” “Sudah, nggak usah macam- macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.
“Tapi Papa…”
Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak- isak pelan sambil memegang uang Rp.15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-
malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew “Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”. “lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.
“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000,- tapi.. karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp.. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos. Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.
R e n u n g k a n k a t a - k a t a i n i !
“Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya”
tertarik sama seseorang yang belum pernah sma sekali ketemu or ngobrol scr langsung, cuma koment2an di fesbuk. tp mungkin aku tertarik karena dia mempunyai kesukaan yang sama denganku
hari ini hatiku sedih
air mata jatuh di pipi
hari ini hatiku sedih
aku menangis lagi
maafkan aku, karena aku, buat mama sedih
akukan slalu ingat pesanmu
turuti nasehatmu
kuberjanji takkan nakal lagi
kesalahan takkan ku ulangi
tapi tolong jangan marah lagi
jangan marah mama…
maafkan aku, karena aku, buat papa sedih
akukan slalu ingat pesanmu
turuti nasehatmu
kuberjanji takkan nakal lagi
kesalahan takkan ku ulangi
tapi tolong jangan marah lagi
tersenyumlah papa….
#lirik lagu
Karena dilanda suatu krisis ekonomi yang berkepanjangan, sepasukan tentara di suatu negara antah berantah terpaksa melakukan latihan perang dengan peralatan apa adanya.
“Untuk menghemat pengeluaran tentara, maka peralatan perang untuk latihan diganti dengan bunyi mulut”, Kata sang komandan.
“Suara tusukan diganti dengan suara bles…”
“Suara tembakan diganti suara dor…”
“Dan, suara granat diganti dengan suara buuum…”
Maka latihan perangpun dimulai dengan sengitnya, sampai suatu ketika terjadilah keributan sesama prajurit.
Prajurit A :
“Kamu curang, ketika masih jauh saya teriak buum… kamu masih jalan terus mendekati aku. Begitu pula ketika agak dekat saya teriak dor, kamu masih jalan terus. Bahkan ketika berhadapan aku bilang bless… kamu jalan terus. Kenapa kamu?”
Prajurit B :
“Breemmmmm saya PANSER”. *jiaaaaahh….*
@yama carlos
Seorang pria yang tampak kumuh duduk di baris pertama mencemooh Walikota ketika ia menyampaikan pidato panjang.
Akhirnya walikota menunjuk ke pria tersebut dan berkata, “Dibandingkan dengan saya, silahkan Anda berdiri dan mengatakan kepada para hadirin apa yang pernah Anda lakukan untuk kebaikan kota ini?”
“Nah, Pak Walikota,” kata pria itu dengan suara tegas. “Yang pernah saya lakukan untuk kebaikan kota ini adalah satu, yaitu saya tidak memilih Anda dalam pilkada kemarin.”
@yama carlos
Tuhan jauhkanlah kami dari sifat iri,dengki,sombong, dan takabur. Sungguh hanya Engkau yang pantas utk menyombongkan diri krn Engkau yang Maha hebat dari yang terhebat di alam semesta dan jagad raya ini.
Terimakasih atas segala nikmat dan anugerah yang telah Engkau berikan kepada kami.Smg kami bisa menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu di dunia fana ini dg baik, hingga jika tiba wktnya kami kembali. Engkau akan menerima kami dengan senyuman terindahMu dan hanya surga tempat kami kembali„,
semoga ..aamiin
| — | (via natasharizki23) |
IBU, dalam termenungku kuingat ada satu kata yang sering kali terlupa atau mungkin hampir aku melupakannya tuk kuucapkan padamu. Sebuah kata yang sesungguhnya sangat ringan untuk diucapkan, tetapi mengandung makna penghargaan yang sangat tinggi. Bahkan, sesungghnya kaulah ibu yang selalu mengajarkanku mengucapkannya pada setiap orang atas apa yang mereka lakukan untukku, sekecil apapun itu. “ Jangan lupa bilang terima kasih kepada penjual permen sayang, jangan lupa bilang terima kasih pada temanmu ketika berbagi makanan, jangan lupa bilang terima kasih pada ibu guru sebelum kamu pulang, jangan lupa bilang terima kasih……” Kepada siapapun kau mengajariku untuk mengucapkan terima kasih ibu, tapi aku ingat kau tak pernah memintaku mengucapkan terima kasih padamu hingga aku tak pernah memikirkan itu.
Mungkin juga karena apa yang kau lakukan untukku kurasakan sebagai suatu kewajiban, hingga aku tak berpikir untuk mengucapkan terima kasih. Hingga aku lupa ibu, jika apa yang kau lakukan adalah sangat berharga untukku. Aku pikir semua hanya rutinitas biasa, yang sudah sewajarnya kau lakukan karena kau tak pernah mengeluh dan kau tak pernah memaksaku untuk menghargaimu. Bahkan sesungguhnya kau bisa untuk tak melakukan semuanya karena aku bahkan tak pernah memintanya, jangankan mengucapkan terima kasih. Dan seiring bertambahnya usiaku ucapan terima kasih untukmu semakin kurasakan sebagai sebuah kata yang asing untuk kuucapkan. Maaf ibu, bahkan aku sendiri pun tak ingat lagi kapan aku terakhir kali mengucapkan kata itu padamu.
Dan kini, aku menghadapmu dengan penuh rasa sesal atas kebodohanku. Dan dengan ini aku ingin menebus hutangku untuk kata yang selalu lupa untuk aku ucapkan padamu ibu. Semoga kau tak pernah mengutukku atas keangkuhanku ini.
Terima kasih untuk doa yang tak pernah terhenti, kau mintakan kebahagiaanku pada-Nya bukan kebahagiaanmu.
Terima kasih untuk selalu menyiapkan makanan di meja makan hingga aku tak perlu menunggu saat aku merasa lapar.
Terima kasih untuk mencucikan pakaianku yang kotor yang aku sendiri pun sering malas untuk melakukannya.
Terima kasih untuk menjagaku sepanjang malam tanpa sedikit pun memejamkan mata meski aku hanya mengeluh demam.
Terima kasih untuk tetap tersenyum dan memanggilku sayang ketika aku marah padamu saat kau melarangku bermain hujan karena kau takut aku akan sakit.
Terima kasih untuk selalu mengingatkanku untuk mengucapkan terima kasih pada orang lain, sedang kau tak pernah mengeluh saat aku lupa mengucapkannya padamu.
Terima kasih untuk membuatku ada di dunia, mengajariku dan menunjukkanku banyak hal hingga aku mengerti untuk apa dan bagaimana aku harus hidup.
Meski sejuta terima kasih yang kuucapkan pun, sesungguhnya tak kan mampu untuk membayar semuanya. Meski aku juga tahu ibu, tak pernah terbesit dalam benakmu untuk membuatku mengucapkan kata itu padamu. Karena kau melakukan semua untukku dengan penuh keikhlasan, ketulusan dan kasih sayang. Hanya sebuah senyum kebahagiaan yang kau nantikan dariku, justru bukan ucapan terima kasih itu. Sekali lagi aku meminta maaf atas kelalaianku mengucapkan terima kasih untuk setiap hal yang kau lakukan padaku. Dan sekali lagi aku ingin mengucapkannya dengan setulus hatiku, terima kasih ibu…. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, ini bukan yang terakhir aku akan mengucapkannya. Hari esok, esoknya lagi, dan sampai kapanpun.
Oleh: Rafika Candra
